Give to Get

PLN Yang Bersih dan Seterang Lampuku

26 Sep 2012 - 13:13 WIB

Menceritakan harapan tentang PLN, artinya saya harus kembali ke ingatan saya di masa lalu. Sebuah dusun tempat saya tumbuh dari kecil, tanpa adanya aliran listrik. Saat itu tahun 90-an, dusun kami belum teraliri jaringan PLN. Dulunya ada salah seorang warga yang menyewakan dieselnya untuk pembangkit listrik, saat itulah saya mengenal lampu neon untuk menerangi rumah. Rumah menjadi terang, belajar pun bagi saya siswa SD saat itu terasa menyenangkan. Hingga akhirnya warga tersebut pindah rumah dan kembali lagi rumah kami tidak teraliri listrik.


Lampu Petromax sayaSolusi dari bapak saya saat itu adalah dengan menggunakan lampu petromak. Lampu berbahan bakar minyak tanah ini adalah pahlawan saya untuk melawan rasa kantuk kalau belajar di kala malam. Saya sendiri tidak tahan terjaga kalau harus menggunakan lampu tempel karena nyalanya redup. Alhamdulillah dengan lampu petromak itu saya bisa belajar dengan baik. Bahkan karena seringnya bapak saya menyalakan lampu ini, saya bisa secara otodidak untuk menyalakan lampu itu sendiri saat bapak tidak di rumah :d . Bahkan saat mengikuti perkemahan waktu SMA dan Kuliah, hanya saya yang menguasai cara menyalakan lampu ini hahaha..

Lampu petromak memang bisa menerangi rumah kami, tapi tidak saat keluar rumah. Saat harus keluar rumah misalnya untuk mengaji di musholla hanya berbekal lampu senter. Saya harus berlari kalau melewati kebun orang karena sangat gelap, takut kalau diganggu hantu :d

Masa-masa itu jadi kenangan indah untuk saya. Hingga suatu sore ada beberapa truk membawa tiang beton untuk PLN di depan rumah. Saat itu saya sudah membayangkan dusun saya akan terang dan tidak akan ada lagi rasa takut keluar rumah karena gelap :)

Akhirnya sejak 1995, dusun kami sudah teraliri listrik dari PLN. Belajar jadi mudah, keluar rumah juga tidak takut, mau nonton televisi juga bisa kapan saja tanpa harus menunggu aki disetrum :d  .

Hingga pada tahun 1998, kami sekeluarga harus pindah rumah. Sebelumnya kami sekeluarga tinggal di rumah dinas guru yang kecil dan Alhamdulillah bapak saya bisa membangun rumah meski harus utang sana sini. Saat itu saya baru kelas 1 SMA, sedikit tahu kalau saat itu dari mendengar pembicaraan bapak dan ibu kalau mengurus penyambungan listrik baru sangat sulit. Harus daftar sana sini dan terkadang harus membayar di luar ketentuan. Meskipun saat itu yang namanya ketentuan itu juga tidak kami ketahui. Yang pasti saat itu antara satu tetangga dengan tetangga yang lain bisa beda jumlah yang harus dibayar, tergantung orang PLN-nya. Akhirnya bapak saya juga mau tak mau harus berkompromi juga, karena memang dasarnya butuh dan tidak ada alternatif lainnya kecuali menyetujui permintaan di luar ketentuan tadi.

Saat itu bersamaan dengan unjuk rasa besar-besaran di era Reformasi yang mengangkat isu penghapusan KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) yang sudah mengakar sangat kuat di semua birokrasi bahkan di diri kita saat ini. Besar harapan saya saat itu korupsi kecil atau besar dan berjamaah bisa hilang dari muka bumi Indonesia di segala bidang.

Terutama PLN yang menyangkut hajat hidup orang banyak mulai dari rumah tangga, tempat ibadah, sekolah, perkantoran, industri, pabrik dan banyak lagi. Belum lagi karena sektor energi ini dimonopoli oleh PLN yang seakan membuat orang PLN merasa berkuasa agar para pelanggan yang mengikuti kemauan mereka dan bukan sebaliknya.

Hingga beberapa tahun setelah reformasi, saya masih ingat reformasi di PLN masih dianggap tidak mungkin oleh masyarakat. Ada anggapan miring,”Kerja di PLN itu bisa kaya, soalnya banyak uang sampingannya” terlihat sekali anggapan masyarakat kalau PLN itu perusahaan korup. Kemudian pemadaman bergilir yang menjadi momok bagi semua pihak baik pelajar, ibu rumah tangga ataupun pelaku bisnis.

Belum lagi keluh kesah kenalan atau saudara yang kesulitan untuk melakukan pasang baru. Bahkan yang punya uang saja kesulitan untuk mendapat sambungan karena keterbatasan daya yang dimiliki PLN saat itu. Entah masalah apalagi yang tidak terurai di dalam PLN saat itu hingga pelanggan masih dinomer duakan.

Bahkan untuk urusan listrik, kami sekeluarga harus mengambil lagi lampu petromak yang sebelumnya sudah masuk gudang karena listrik PLN sering kali byar pet akibat pemadaman bergilir. Sehingga kami sering mengadakan perayaan ulang tahun karena sebulan sekali biasanya kami menyalakan lilin juga di rumah :d

Kemudian harapan itu mulai muncul saat Direktur PLN dipercayakan kepada Bapak Dahlan Iskan yang saya yakin pembawa hawa baru bagi internal PLN. Dengan gaya kepemimpinannya yang seketika itu juga, reformasi di PLN berjalan dengan cepat. Saya sampai kagum apalagi urusan byar pet sudah sangat jarang, untuk pengurusan sambung baru dan tambah daya juga cepat. Itulah yang membuat pandangan saya kepada PLN dari sebelumnya ibarat lampu minyak tanah yang redup dan kusam menjadi lampu neon yang terang dan bersih.

Logo PLN

Tentunya momen bagus seperti ini harus bisa dipertahankan oleh PLN terutama setelah dibawah pimpinan Bapak Nur Pamudji, jangan sampai hawa bagus ini terkikis saat pergantian kepemimpinan atau perubahan peta politik di negara kita. PLN harus bisa mandiri sebagai perusahaan pelayan rakyat yang mampu memposisikan pelanggan sebagai raja bukan sebaliknya.

Budaya korupsi adalah musuh bagi kita semua dan kita harus lawan bersama mulai dari diri kita. Berubah memang berat, tapi tidak ada kata berat untuk berubah untuk kebaikan. Baik itu kebaikan untuk kita sebagai pelanggan maupun untuk kebaikan PLN.

Untuk itu ada banyak harapan yang saya gantungkan untuk PLN demi mewujudkan PLN sebagai BUMN yang bersih dan pelayan masyarakat dengan kemampuan terbaik.

Rekruitmen

Dimulai dari proses rekruitmen, tidak bisa dipungkiri SDM yang dimiliki PLN adalah urat nadi dari penyelenggara energi listrik di negeri ini. Input yang bagus akan menghasilkan output yang bagus. Dari proses rekruitasi sendiri harus dimulai dengan sistem yang transparan dan seleksi yang ketat

Sistem rekruitasi yang transparan akan memberikan kepuasan bagi calon pelamar yang ingin masuk PLN. Tidak ada lagi pintu masuk bagi orang uang ingin memasukkan anak, saudara atau kenalannya lewat jalur belakang. Kandidat terbaik tetap yang harus lolos seleksi.

Penyeleksian SDM yang akan masuk PLN juga bisa menggunakan bantuan dari Universitas atau Lembaga kompeten lainnya yang independen. Sehingga mereka yang membuat soalnya, menyelenggarakan dan menentukan yang lolos. Dengan demikian rasa percaya masyarakat terhadap proses seleksi masuk bisa dibangun. Sehingga SDM-SDM yang bermutu tidak takut berkompetisi, hanya karena takut tidak punya uang pelicin.

Keteladanan

SDM yang sudah bagus saat masuk, sudah seharusnya diberikan keteladanan dari seorang pemimpin yang bisa dianut. Jangan sampai para bawahan mendapatkan teladan buruk dari pemimpin yang korup. Tak jarang seorang bawahan menjadi korup karena “dipaksa” oleh sistem yang diciptakan oleh atasannya untuk korup. Ini tentu bukan hal bagus karena budaya korupsi akan tetap mengakar dan sulit dihindari.

Menghilangkan budaya korupsi di PLN tentunya harus dimulai dari pimpinannya. Jika pimpinannya takut untuk korupsi, maka bawahannya juga akan takut. Keteladanan akan memberikan rasa nyaman dan aman, berjalan sesuai SOP (Standart Operating Procedure) dan bebas khawatir.

Kaderisasi

Sistem yang sudah bagus dan bebas KKN hanya akan langgeng jika pergantian kepemimpinan memiliki semangat yang sama. Semangat untuk terus memperbaiki pelayanan, kinerja dan memelihara semangat Good Corporate bersama-sama. Tanpa adanya penerus pemimpin yang memiliki visi dan misi yang sama untuk PLN yang lebih baik, maka akan sia sia usaha perbaikan yang sudah dirintis.

Menyiapkan SDM internal PLN terbaik untuk menempati posisi strategis akan sangat membantu dan mempercepat akselerasi perbaikan pelayanan PLN bagi masyarakat. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan beban kerja yang seimbang, sesuai jenjang karir dan insentif yang sesuai. Dengan demikian suasana kerja akan kondusif, sehingga seluruh SDM PLN siap bisa berkonsentrasi untuk memperbaiki kerja dengan berkelanjutan. Sehingga di posisi manapun selalu ada SDM yang siap menerima beban kerja sebagai pimpinan baru dengan baik.

Konsistensi

Sudah sering pergantian pucuk pimpinan di BUMN juga membawa banyak perubahan baik di internal maupun hingga di bagian paling bawah yaitu pelayanan. Jika perubahan itu menuju perbaikan tentu harus didukung, tapi jika menuju pelayanan yang lebih buruk tentunya harus dilawan. Dilawan dengan aturan dan standarisasi di PLN, standarisasi yang sudah baku, teruji dan mendapat respon yang bagus di masyarakat.

Dengan adanya bukti respon yang bagus di masyarakat, jika ada perubahan kebijakan yang merugikan maka internal PLN yang sudah berpengalaman sebelumnya bisa memberikan argumentasi dengan bukti kuat. Dengan demikian siapapun pimpinan PLN nantinya juga akan tahu hasil kerja pelayanan yang optimal seperti apa sebagai pertimbangan.

Pelayanan yang bagus harus dipertahankan, bahkan harus ditingkatkan. Dengan demikian masyarakat sebagai pengguna jasa PLN akan menikmati pelayanan yang sama bahkan meningkat, meskipun pimpinan PLN berganti-ganti.

Reward and Punishment

Adanya mekanisme reward and punishment akan membangun situasi kerja yang kondusif. Di satu sisi, para SDM PLN akan diberikan ruang untuk memberikan masukan, ide dan inovasi terbaik mereka untuk perbaikan pelayanan PLN. Dengan ini pula para pimpinan PLN juga akan tahu mana SDM PLN yang berkompeten, bervisi ke depan serta memiliki ide-ide brilian untuk kemajuan PLN. Tidak ada lagi rasa takut untuk menyampaikan ide bagus baik secara langsung maupun tidak langsung kepada pengambil keputusan. Hal ini akan membantu potensi SDM PLN untuk berkembang dan meningkat baik dari skill maupun jabatan.

Begitu pula sebaliknya jika ada SDM PLN yang buruk secara kinerja juga harus mendapatkan hukuman. Suasana kerja tidak akan bisa kondusif jika memiliki rekan kerja yang kinerjanya buruk. Jika mengganggu kinerja tim, tentunya perlu dievaluasi.

Sehingga perlu ada penilaian antar sesama rekan kerja ataupun bahkan dengan pimpinan dan bawahannya secara tertutup. Kenapa tertutup? Agar penilaiannya obyektif, baik atau buruk akan disampaikan dan akan dijadikan bahan evaluasi secara menyeluruh. Jika buruk sudah seharusnya mendapatkan hukuman atau peringatan agar tidak berimbas pada pelayanan. Dan jika penilaiannya bagus juga layak untuk mendapatkan promosi jabatan misalnya.

Pelayanan

Sebagai perusahaan jasa, pelayanan merupakan inti dari segalanya. PLN harus benar-benar menganggap pelanggan sebagai raja.  Meskipun memiliki kemampuan monopoli di sektor energi listrik, tentunya tidak boleh membuat PLN sembarangan memperlakukan pelanggan apalagi memberikan pelayanan asal-asalan dengan dalih,”Mau tidak mau, ya adanya seperti ini”.

Mulai dari proses sambung baru, pembayaran tagihan ataupun tambah daya sudah seharusnya diprioritaskan mendapat pelayanan nomer satu. Karena pada dasarnya pelanggan membawa uang, sungguh ironis kalau pelanggan mau membayar saja dipersulit seolah PLN tidak mau uang  :d

PLN pun sudah menangkap hal tersebut dan diberikan solusi melalui pasang baru secara online dengan biaya yang jelas. Hal ini akan mencegah terjadi transaksi di luar ketentuan di lapangan, karena calon pelanggan sudah mengetahui berapa yang harus dibayar. Jika ada yang janggal, bisa lapor ke PLN langsung.

Kemudian layanan pembayaran tagihan listrik yang sudah tersebar dimana-mana mudah ditemukan. Meskipun ada biaya administrasi, bagi saya sendiri manfaatnya lebih banyak karena saya tidak perlu bayar parkir, tidak perlu keluar bensin, tidak perlu antri, tidak perlu kepanasan. Sungguh kemudahan pembayaran tagihan PLN secara online dan real time ini sangat membantu sekali.

Demikian juga dengan produknya PLN yaitu listrik, tentunya harus tetap terjaga dengan baik. Listrik juga tidak boleh padam dan komitmen PLN untuk tidak memadamkan listrik kecuali ada perbaikan patut diacungi jempol. Artinya PLN sudah mampu melayani seluruh pelanggannya dengan baik. Pelanggan tentunya tidak mau tahu alasan jika ada pemadaman, itu urusan PLN. Bagi pelanggan yang penting nyala, itu yang dibutuhkan pelanggan termasuk saya :d

Standarisasi pemadaman juga harus diatur mulai dari waktu maksimal pemadaman, kode atau pemberitahuan ke pelanggan, hingga kecepatan untuk menanggapi keluhan juga diperlukan agar masing-masing pihak baik PLN maupun pelanggan memegang komitmen pelayanan yang sama.

Jika semua pelayanan PLN sudah terlaksana dan tertata dengan rapi, maka Motto PLNListrik Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik” bisa terwujud dengan baik. Sesuai dengan harapan masyarakat akan hadirnya listrik yang bisa memperbaiki kualitas hidup dan ekonominya. Tidak terbayang betapa susahnya kita kalau listrik mati lebih dari 3 jam, rasanya ada yang hilang dari hidup :)

Inovasi

Terobosan harus selalu dilakukan oleh PLN di semua bidang, dengan adanya inovasi tentunya akan memberikan perbaikan bagi pelayanan yang lebih baik. Inovasi seperti pembayaran listrik prabayar adalah salah satu inovasi yang brilian. Di sisi PLN, hal tersebut akan efisien karena tidak perlu mendatangi pelanggan dari rumah ke rumah untuk mencatat meteran. Tidak perlu meloncati pagar seperti maling atau digigit anjing penjaga rumah ;)

Bagi pelanggan juga dimudahkan karena bisa mengatur pengeluaran dan pemakaian listrik di rumah. Kalaupun rumah tidak ditempati lama, juga tidak perlu takut diputus karena tidak membayar abonemen bulanan. Pelanggan juga bisa membeli pulsa untuk mengisi meteran prabayarnya di konter pulsa terdekat.

Saya sendiri masih bingung bagaimana caranya meteran tadi agar bisa mencocokkan nomer yang dimasukkan valid atau tidak :d

Pengadaan Barang

Selain berhubungan dengan pelanggan yang terkait pelayanan, yang tidak kalah pentingnya adalah pengadaan barang seperti suku cadang untuk perbaikan peralatan PLN. Setidaknya PLN harus bisa memilih barang yang mutunya bagus tapi murah, memangkas rantai distribusi dan mempersingkat waktu pengadaan tanpa harus melanggar aturan.

Memilih suku cadang yang bagus terkadang susah gampang, karena bisa jadi ada banyak pilihan. Di PLN sendiri suku cadang ada yang asli dan suku cadang yang tidak asli. Maksudnya suku cadangnya ada yang dibuat oleh pabriknya mesinnya sendiri, juga ada yang suku cadangnya hasil produksi dari pabrik lain. Jika kualitasnya sama dengan harga lebih murah, tentu PLN bisa mengambil suku cadang yang tidak asli. Resikonya memang mungkin umur suku cadangnya bisa lebih cepat, tapi SDM di internal PLN pasti bisa mengatasinya dengan perawatan berkala dan perbaikan.

Yang membuat harga barang menjadi naik biasanya terjadi karena rantai distribusi yang panjang. Mulai dari produsen, supplier, distributor hingga sampai PLN yang sudah pasti setiap berhenti di satu titik distribusi akan terjadi kenaikan harga. Belum kalau ada orang perorangan yang minta komisi. Jika bisa membeli langsung ke produsennya, kenapa harus lewat perantara. Ribet-ribet sedikit tapi bisa menghemat.

Selain itu dengan memutus rantai distribusi akan mempercepat waktu pengadaan. Suku cadang lebih cepat tersedia,  segera diaplikasikan dan segera dipakai. Tentunya semua pihak sama-sama senang, baik PLN maupun produsen barangnya karena semuanya menjadi lebih cepat.

Untuk efisiensi juga PLN sehendaknya melakukan perawatan ataupun perbaikan suku cadang, tanpa selalu harus membeli jika ada yang rusak. Jika memungkinkan dirawat di dalam negeri, jika tidak baru kemudian dicarikan solusinya ke luar negeri.

Proses pengadaan barangnya pun harus terbuka, akuntabel dan bisa dipertanggung jawabkan. Dengan kemajuan teknologi, proses pengadaan barang bisa dilakukan melalui internet dengan sistem lelang. Para produsen akan menawarkan produknya dengan harga terbaik secara terbuka karena ada persaingan. Para pengambil kebijakan di PLN juga bisa menentukan barang yang bagus dengan harga termurah kalau bisa.

Sehingga dengan demikian produsen senang karena semuanya transparan, efeknya tidak ada lagi rasa takut dari produsen barang bagus untuk tidak menawarkan barangnya ke PLN karena takut kalah memberi komisi ke PLN. PLN juga akan enak karena mendapat banyak penawaran dengan spesifikasi sama tapi dengan harga yang lebih kompetitif. Hal ini akan mencegah oknum yang menawarkan kick-back atau komisi kepada bagian pengadaan barang PLN.

Sumber Energi Baru

Sudah seharusnya PLN mulai memikirkan sumber-sumber energi baru untuk dikonversi menjadi energi listrik di masa depan. Minyak bumi, gas maupun batubara yang selama ini digunakan PLN untuk membangkitkan energi listrik harus mulai dicarikan solusinya. Karena sumber energi tersebut pasti habis, tanpa bisa diperbarui lagi. Jika tidak dicarikan solusinya segera, maka tinggal menunggu waktu kita kembali lagi di jaman pemadaman bergilir atau bahkan kembali menyalakan lampu petromak.

Kemampuan anak negeri untuk menghasilkan solusi energi alternatif sebenarnya ada sangat banyak. Di kompetisi sains juga sudah banyak anak bangsa yang bisa membuat energi listrik alternatif menggunakan sumber daya yang bisa diperbarui seperti bio diesel. Sudah seharusnya PLN aktif ikut serta untuk membantu penelitiannya, mengembangkannya dan nantinya mengimplementasikan di pembangkit yang sudah ada.

Jikalaupun PLN harus menggunakan Nuklir sebagai solusi akhir, maka PLN harus bisa mampu menguasai ilmunya dan menguasai tekniknya agar dalam pelaksanaannya tidak membahayakan masyarakat. Meskipun bagi saya penggunaan Nuklir masih belum dibutuhkan saat ini karena kita masih kaya akan energi alternatif lainnya yang murah dan aman yang berasal dari alam.

Negera kita berada di daerah tropis yang kaya sumber daya alam dan sudah seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya tanpa merusaknya. Penggunaan bahan bakar fosil sudah seharusnya mulai dikurangi dan memulai penggunaan energi alternatif. Sumber-sumber energi yang potensial seperti tenaga air, panas bumi, angin, matahari dan lainnya sudah seharusnya dilirik oleh PLN.

Paling tidak PLN ikut membantu memberikan pengetahuan penggunaan energi alternatif atau membantu pelanggan yang ingin membuat pembangkit listrik mandiri di rumahnya masing-masing. Mengingat jika kita ingin mengimplementasikan energi alternatif tersebut kesulitan mencari barangnya di pasaran. Jangan sampai konsumen sebagai pengguna listrik terkejut dan tidak siap jika sewaktu-waktu pasokan daya untuk membangkitkan energi listrik PLN habis dan tidak ada alternatif energi lainnya. Tidak sulit sebenarnya jika kita bersama-sama memikirkan masa depan generasi mendatang.

Kampanye Hemat Energi

Tak jarang karena merasa memiliki uang dan bisa membayar tagihan listrik berapapun jumlahnya, ada pelanggan PLN yang boros dalam menggunakan energi listrik. Meskipun tidak dilarang tapi setidaknya, untuk menghemat pasokan energi di masa depan sudah seharusnya konsumen diberikan pengetahuan pentingnya hemat energi sejak sekarang. Mengutip apa yang disampaikan diatas sebelumnya, pembangkit listrik PLN saat ini kebanyakan masih menggunakan bahan bakar fosil yang pasti habis. Yang jika tidak kita mulai sejak sekarang  untuk berhemat, maka akan semakin cepat juga habisnya energi tersebut.

Kampanye penggunaan lampu LED sebagai contoh bisa dijadikan kampanye hemat energi. Harga lampu LED yang mahal juga bisa dibantu dengan diambilkan dari subsidi pemerintah daripada subsidinya dipakai oleh pihak yang tidak layak mendapat subsidi. Lampu LED distribusinya masih terbatas dan harganya masih mahal. Padahal lampu jenis ini lebih hemat konsumsi energinya, nyalanya tetap sama terang dan umurnya lebih panjang. Jika banyak konsumen yang beralih menggunakan lampu LED, maka konsumen juga akan berhemat pengeluaran dan energi yang dipakai juga bisa diirit.

PLN juga bisa membuatkan aplikasi online yang bisa membantu calon konsumen untuk mengukur kebutuhan lampunya di masing-masing ruangan di rumahnya. Menyesuaikan dengan luas ruangan, tinggi, warna cat tembok dan desain letak perabotnya. Dengan ini, konsumen akan bisa menentukan lampu dengan kekuatan berapa watt yang efektif untuk menerangi ruangan rumahnya tanpa khawatir terlalu redup ataupun terlalu boros.

Jika digabungkan dengan penggunaan lampu LED, aplikasi tersebut bisa disertai perbandingan harganya antara lampu biasa maupun lampu LED. Dilengkapi dengan pengeluaran yang harus dihabiskan dalam setahun diantara keduanya, bisa membujuk konsumen secara halus untuk berpindah ke lampu LED. Ditambah konsumen akan menyadari penghematan yang akan bisa mereka dapat jika beralih ke lampu LED. Tanpa adanya perhitungan seperti itu, konsumen akan takut berpindah karena tahu harga lampu LED di awal memang mahal tapi penghematan yang bisa mereka dapat lebih banyak.

Hal-hal seperti ini yang harus dilakukan PLN agar keberlangsungan energi bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya lebih lama lagi.

Efisiensi

Tidak hanya konsumen PLN saja yang harus berhemat, PLN sendiri juga harus berhemat dengan melakukan usaha efisiensi agar kinerja perusahaan positif. Jangan sampai PLN merugi karena tidak efisiennya roda perusahaan. PLN sendiri sudah melangkah menuju perusahaan yang efisien dan efektif dengan meluncurkan berbagai terobosan baru yang patut diacungi jempol.

Penggunaan listrik prabayar misalnya, selain mengurangi kemungkinan transaksi korup di lapangan oleh petugas juga langkah efisiensi karena tidak perlu menyediakan lagi petugas lapangan untuk mengecek meteran listrik pelanggan.

Pembayaran tagihan listrik secara online yang sudah tersebar secara luas di penjuru Indonesia juga mempercepat pembayaran tagihan pelanggan. Tagihan segera terlunasi, tidak ada lagi antrian panjang ataupun calo.

Begitu pula dalam pengadaan barang, sudah tentu PLN harus mampu efisien dalam memperhitungkan barang yang harus dibeli. Jika masih bisa dirawat, lebih baik diperbaiki dahulu. Jangan sampai rusak sedikit tapi harus diganti baru. Memutus jalur distribusi juga langkah efisiensi agar barang segera tersedia dengan harga lebih murah.

Langkah efisiensi di PLN harus dilaksanakan di semua lini, jangan sampai jargon,”Kalau bisa sulit, kenapa dipermudah” masih ada di PLN.

Mengurangi Ketergantungan dari Subsidi

Meskipun subsidi tujuannya membantu rakyat kecil tapi kenyataannya di lapangan subsidi dinikmati oleh orang mampu. Apalagi kita dilenakan oleh subsidi sekian puluh tahun, sehingga begitu berat bagi kita untuk melepas ketergantungan itu. Apalagi subsidi diberikan untuk barang yang tidak bisa diperbarui yaitu bahan bakar fosil, yang berakibat persediaan energi menipis dari waktu ke waktu.

Dengan mencabut subsidi untuk pelanggan diatas 900 VA, maka akan jelas siapa yang menikmati subsidi yaitu golongan menengah ke bawah. Sedangkan pabrik dan perusahaan sudah sepantasnya dicabut, pabrik bisa diberikan insentif jenis lainnya yang tidak akan mengganggu produktifitasnya.

Bagi saya tidak masalah semua subsidi dicabut tapi subsidi dialihkan ke Pendidikan dan Kesehatan. Jika pendidikan sampai perguruan tinggi bahkan S3 sekalipun Gratis 100% dan Kesehatan gratis 100% untuk sakit apapun , maka orang tidak perlu memikirkan apa-apa lagi. Orang hanya akan memikirkan makan sehari-hari. Tanpa harus korupsi karena anaknya mau masuk Kedokteran dan bayar 200 juta, atau karena istrinya sakit parah. Di lain sisi, putra putri terbaik bangsa mau miskin atau kaya punya kesempatan sama akan pandai sepandai-pandainya sampai tingkat tertinggi tanpa memikirkan biaya. Dan SDM Indonesia juga terjamin kesehatannya tidak ada yang sakit.

Kembali ke masalah subsidi listrik, penggunaan dana subsidi yang tepat sasaran sudah seharusnya dipikirkan. Alokasi dana yang ada jangan sampai dinikmati pihak yang tidak seharusnya apalagi sampai dikorupsi. Subsidi paling tidak lebih diutamakan untuk penghematan energi dan membantu rakyat miskin yang belum mendapatkan aliran listrik.

Pengawasan dan Evaluasi

Semua hasil kerja PLN sudah selayaknya mendapatkan pengawasan dan evaluasi baik dari internal maupun eksternal. Secara internal, semua pihak di dalam PLN bisa saling mengingatkan jika ada kondisi di lapangan yang diluar ketentuan standar prosedur. Pengawasan secara horisontal maupun secara vertikal juga bisa membangun penilaian yang obyektif untuk mengukur efektifitas kinerja masing-masing personal. Pengawasan bukan saling menjatuhkan, karena pengawasan adalah wujud perbaikan agar selalu mengingat kembali pada standar pelayanan yang sudah baku.

Evaluasi secara berkala juga harus dilakukan agar mengetahui kekuatan juga sekaligus kelemahan diri sendiri. Kritik tetaplah bisa dilihat secara positif sebagai bentuk peduli agar terus memperbaiki pelayanan, jangan dianggap kritik sebagai hal untuk menjatuhkan. Jika sampai tidak ada kritik yang masuk ada dua kemungkinan, layanan sudah sangat sempurna (yang itu tidak mungkin) atau layanan kita sangat buruk sehingga rasanya percuma saja dikritik. Disitulah pentingnya pengawasan dan evaluasi.

Pintu whistle blower juga harus dibuka seluas-luasnya, untuk mencegah PLN kembali ke jaman jahiliyah dimana korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi debu gelap yang menutupi plang nama PLN.   Tidak ada yang lebih baik mengenal kekurangan di tubuh kita selain kita sendiri. Sebelum sampai didengar oleh orang lain, sudah sepatutnya PLN memperbaikinya sendiri dengan cepat.

Pengawasan juga harus obyektif, harus dilakukan dari dua sisi. Dari sisi PLN juga dari sisi konsumsen. Konsumen juga harus dilibatkan dalam melakukan pengawasan terhadap PLN. Memberikan kemudahan untuk pengaduan atau pertanyaan melalui email, website, telepon maupun surat pembaca di media massa. Bahkan di era Social Media ternyata PLN juga tidak mau ketinggalan dengan menyediakan akun sosial media seperti di akun Twitter PLN disini http://twitter.com/pln_123.

Memang memuaskan semua pelanggan tidak mungkin, tapi PLN sudah selayaknya memberikan informasi yang dibutuhkan pelanggan dari berbagai cara komunikasi yang tersedia saat ini. Jika memungkinkan di masing-masing Unit PLN di daerah ada nomer kontak tersendiri yang bisa dihubungi dengan mudah oleh pelanggan jika ada pertanyaan ataupun gangguan. Jangan sampai kebingungan pelanggan di bawah justru dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggung jawab yang bisa mempengaruhi reputasi PLN yang sedang diperbaiki.

Untuk itulah PLN telah bekerjasama dengan TII (Transparency International Indonesia) untuk bersama memperbaiki di bidang pelayanan dan pengadaan barang yang selalu menjadi sorotan oleh publik. Dengan menggandeng NGO TII ini, PLN berharap ada kontrol dalam pelaksanaan semangat Good Corporate Governance (GCG) dan anti korupsi di tubuh PLN.

TII sendiri merupakan NGO global yang memiliki jaringan di berbagai negara yang membantu mewujudkan dunia yang bersih dari korupsi dan dampak masifnya. Dengan bekerjasama dengan partai politik, institusi negara, bisnis dan masyarakat mempromosikan transparansi dan manajemen yang akuntabel, menggunakan pendekatan menampung aspirasi dan melakukan aksi. Sebagai wujud komitmen TII juga akan melakukan Pakta Integritas bersama lembaga yang diajak kerjasama termasuk dengan PLN. Dan perlu dicatat bahwa kerjasama PLN dengan TII ini Gratis.

Sebagai langkah awal kegiatan yang dilakukan TII bersama PLN adalah pemutaran film Kita vs Korupsi di beberapa kantor PLN. Tujuannya sebagai pembelajaran bagi staf dan jajaran pimpinan di PLN, betapa luas bahayanya efek korupsi bagi kehidupan kita. Sehingga dalam implementasinya nanti dalam bekerja, bisa menghindari praktik korupsi. Bagi anda yang belum melihat filmnya bisa dilihat di bawah ini.

[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/watch?v=mzJPAhHkWY0" width="560" height="315" wmode="transparent" /]

Kerjasama ini pada konsepnya nanti akan ada tim yang dibentuk untuk menerima aduan atau komplain dari pelanggan atau masyarakat yang memiliki akses langsung dengan Direksi PLN dan mudah dihubungi oleh semua orang. Sehingga jika ada pihak yang merasa dirugikan oleh oknum PLN bisa mengadu/melaporkan ke tim ini. Sehingga “permainan” dalam pengadaan barang ataupun uang tambahan di lapangan bisa dilaporkan secara langsung. Tentunya akan lebih baik lagi jika aduan yang masuk disertai dengan bukti yang akurat agar tindakan yang dilakukan memiliki dasar yang kuat pula.

Dengan adanya kerjasama ini maka pelanggan, vendor maupun pengambil keputusan lainnya bisa sama-sama terhindar dari praktik korupsi. Dengan demikian tujuan PLN agar menjadi perusahaan dengan tata kelola yang baik dan benar, transparan, akuntabel dan anti korupsi bisa terwujud.

Tidak lupa PLN juga sekarang lebih terbuka dalam menerima masukan-masukan dari masyarakat agar PLN menjadi perusahaan yang sesuai dengan harapan masyarakat kebanyakan. Salah satunya adalah dengan mengadakan kontes blog bekerjasama dengan blogdetik.com dengan tema “Harapanku Untuk PLN”. Dengan tema yang diangkat ini tentunya PLN memiliki keinginan besar untuk membuka telinga lebar-lebar untuk menerima input-input yang bisa membantu mewujudkan PLN sebagai perusahaan yang komitmen pada pelayanan, bersih dari KKN dan bisa diandalkan. Sekaligus memperkenalkan semangat dan komitmen baru di tubuh PLN yang anti korupsi kepada masyarakat, agar bisa mengurangi stigma negatif terhadap PLN di masyarakat. Tentunya PLN tidak akan bisa berubah menuju lebih baik tanpa dukungan kita sebagai masyarakat.

Melihat berbagai perubahan yang telah terjadi di tubuh PLN, saya kembali yakin dengan BUMN satu ini akan menjadi perusahaan yang lebih baik. Semua semangat perubahan yang sudah dikobarkan semoga tetap konsisten dilaksanakan dan dipelihara agar PLN tetap bisa mengikuti perubahan kebutuhan pelanggan. Dengan semangat “Bekerja Bekerja Bekerja” akan memberikan motivasi khususnya bagi seluruh jajaran PLN dari atas hingga paling bawah untuk hanya fokus pada perbaikan pelayanan di semua bidang. Inovasi, evaluasi, perbaikan dan keterbukaan yang sudah dimulai semoga juga tetap menjadi komitmen sekarang dan di masa datang. Banyak harapan digantungkan ke PLN agar terus menjadi bersih dan seterang lampuku :)


TAGS   257 /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive